Cerpen Aghniya #1
Ini adalah cerpen pertamaku di sini tentang kehidupanku sehari-hari. Sebenarnya Cerpen Khayalan ini sudah aku tulis di Word sejak 31 Desember 2017. Tapi aku ingin membagikannya di sini sekarang sebagai cerita penutup tahun ini.
Langsung mulai aja ceritanya..
💨💨💨
Tak sepantasnya aku berpikir seperti ini. Namun, apalah daya aku sudah terjerumus masuk kedalamnya. Jurang yang sangat dalam yang mungkin tidak bisa kugapai. Tapi tekadku tetap seperti awal. Aku ingin mencapainya, aku tidak ingin kembali, aku ingin meraihnya. Aku ingin mencapai sebuah titik dimana semua yang ku dapatkan bisa ku bagikan. Dimana mentari ada di dalam diriku yang memberikan aura positif kepada semua orang. Pendirianku tetap. Walau tak ada lagi tempat yang bisa ku jadikan sandaran. Perjalananku masih panjang. Aku masih berada di titik awal, aku membutuhkan usaha yang besar untuk bisa mencapai jarak terjauh itu.
Khayalan yang tidak masuk akal, mulai melayang dipikiranku. Ketika beban pikiran yang begitu berat dan menghantui diriku sudah tak bisa lagi ku tampung. Menangis dalam shalat, dalam do’a, dan juga dalam lamunan sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini. Apalah arti aku dalam hidup. Apakah ini hidup yang harus ku jalani?
Setelah 20 menit perjalanan akhirnya aku sampai di sekolah, sudah menjadi hal yang biasa lapangan parkir ini masih kosong saat 10 menit sebelum masuk. Kemudian aku memarkirkan motorku di bawah saung. Aku pun bergegas masuk ke kelas. Melewati sebuah gerbang paling dicari dan dikejar ketika waktu menunjukkan pukul 06.55 lebih. Kemudian aku menyusuri jalan menuju kelasku saat ini berada.
“umiii!”
“umiii!”
“umiii!”
“umiii!”
“umiii!”
Sambil melambaikan tangan beberapa teman mulai menyapaku ketika sampai di
halaman kelas. Ada rasa tersendiri yang tersembunyi dalam diriku. Ketika mereka
memanggilku seperti itu. Jujur aku senang semua orang begitu ramah kepadaku.
Namun, aku pun malu. Aku seperti orang yang paling dihormati. Aku kurang suka
hal semacam itu. Aku juga sama seperti yang lain, hanya seorang perempuan biasa.
Lalu aku masuk ke dalam kelas. Dan sama seperti tadi mereka mulai
menyapaku. Aku hanya bisa tersenyum membalasnya.
Hari ini aku duduk di meja pojok kanan paling depan, persis di depan meja
guru. Aku duduk disana sambil menunggu
bel masuk tiba.
Beberapa hari lagi PAS akan dilaksanakan, maka hari ini jam kosong terjadi
sebab para guru sibuk mempersiapkannya. Meskipun seperti itu tugas tetap
menghampiri.
Sambil mengerjakan tugas tersebut, tiba-tiba pemikiran di motor tadi
kembali masuk ke dalam otakku. Apalah
arti aku hidup? Apa yang ku cari selama ini?
Terkadang aku menangis saat keadaan semacam itu sedang menghampiriku.
Sejak kecil aku selalu menyendiri. Menikmati setiap kejadian yang dilalui.
Menjadi sebuah memori di masa ini untuk
masa depan nanti.
“Ag!” salah satu dari si kembar membuyarkan pikiranku.
Si kembar adalah sahabatku. Aku mengenalnya sejak duduk di bangku TK hingga saat ini ketika kami duduk di kelas 2 SMA, masih berbarengan. Mereka yang paling mengerti dengan keadaanku.
“Ayo sholat!” ajaknya. Aku baru tersadar ketika jam ditanganku sudah
menunjukkan pukul 15.25. Waktunya untuk sholat ashar dan pulang sekolah.
“Ayo!” jawabku, sambil merapikan barang-barangku. Setelah itu aku pergi ke Masjid dan pulang.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar